Fotografi Sunset Di Danau Mustika Grande

 Aku gak mau bahas banyak tentang Mustika Grande. Ya itu daerah di Burangkeng , Setu Bekasi. Bukan tempat menarik. Cuma di situ ada danau ya...

Should Watch

Fenomena Anak Nongkrong SCBD Tidak Terjadi Begitu Saja

 Hari ini siapa yang tak kenal nama Bonge, Roy, Jeje, Kurma dan teman-temanya. Mereka adalah sekumpulan remaja yang suka nongkrong di daerah Dukuh atas. Kegiatan mereka awalnya hanyalah sebuah kegiatan nongkrong yang oleh kebanyakan orang tidak ada manfaatnya. Memang benar apa yang mereka lakukan sebelum viral tidak ada manfaatnya bagi mereka orang yang terpelajar dan dari kalangan ekonomi menengah ke atas. 


Sebagian besar mereka adalah anak putus sekolah. Nongkrong di pinggir jalan, main gitar dan mengamen adalah hal yang sangat luar biasa bagi mereka tapi gak bagi kalangan bermobil dan berada. Para pekerja kantoran di sekitaran Sudirman mungkin akan merasa risih dengan keberadaan mereka pada awalnya. Seharian mereka hanya duduk-duduk , menyanyi dengan lagu dan joget yang anti mainstream benar-benar sebuah pemandangan kelas sosial yang sangat berbeda dari kalangan pekerja kantor. 


Pada saat itu mereka , anak nongkrong SCBD juga bukan konten creator yang terkenal walaupun sebagian dari mereka memiliki akun sosial media seperti Ig, tiktok dan lainya, namun popularitas mereka juga tidak lebih hebat dari para konten creator dari kalangan menengah ke atas. Lantas kenapa mereka menjadi viral dan terkenal? 


Popularitas Bonge dan kawan-kawan sebenarnya diangkat oleh konten creator yang mewawancarai mereka. Ke luguan dan kehidupan mereka yang anti mainstream membuat vidoe mereka menjadi viral. Bonge sendiri bisa kehilangan akun instagram setelah dia terkenal yang followernya katanya tidak lebih dari 10 ribu. Ini artinya Bonge bukanlah konten creator. Dia sekarang menjadi aktor yang akan menarik perhatian para konten creator untuk kolaborasi bareng denganya. 


Kehidupan Bonge, Jeje, Roy, Kurma dan kawan-kawan bukanlah kehidupan normal anak -anak remaja pada umumnya. Anak remaja pada umumnya menghabiskan waktu di sekolah, tempat les dan bermain gadget di rumah orang tua mereka. Mereka hidup brekecukupan. Sementara itu Bonge dan kawan-kawan harus bekerja sebagai pengamen , bahkan sebagai manusia silver untuk memenuhi kebutuhan diri mereka dan bahkan keluarga mereka. 


Kalau ada tokoh agama yang mencela mereka hanya karena mereka tidak sholat dan berpakaian ala barat.. aduh ..picik sekali dia. Dia tidak melihat latar belakang kehidupan mereka. Ketika mereka hidup kekurangan, kau jangan bicara agama pada mereka. Bicaralah bagaimana mereka bisa meningkatkan taraf hidup mereka, mencukupi kebutuhan mereka baru kau bicara agama dan moral. 


Dalam sebuah wawancara TV Bonge, Roy ditanya apa keinginan kamu" Mereka menjawab ingin membahagiakan orang tua" ... Jawaban ini bukankah sebuah perkataan yang mengandung nilai ajaran agama dan moral yang tinggi? Jadi menghakimi mereka sebega agen liberalisme dan kehidupan bebas dijalanan adalah sebuah cara pandang orang yang mainya kurang jauh, atau orang itu tidak pernah pulang larut malam, atau bacaan dia cuma satu buku kemudian dia seolah-olah sudah menguasai sebuah ilmu. 

 

Jadi mari melihat fenomena ini sebagai sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Ada banyak ribuan remaja yang tidak beruntung yang tidak bisa duduk di bangku sekolah. Ada banyak remaja yang tidak beruntung yang dia harus mencari sesuap nasi ketika teman-temanya duduk di masjid, gereja, atau tempat ibadah lainya mendengarkan para penceramah agama. Lihatlah mereka dengan kasih sayang. Berikan kesempatan kepada mereka untuk tumbuh dan berkembang. 

 

Dengan kasih sayang kita bisa melihat sesuatu tanpa harus menghakimi. Kalau ada kesalahan bukankah kesalahan itu bisa diperbaiki selama nafas masih di kandung badan? 

 

0 komentar:

Posting Komentar